Segenap Keluarga Besar MTs Al-Falah Jatibaru Mengucapkan: SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1446 H MINAL AIDIN WAL FAIZIN#

Tuesday, 28 April 2015

Aliran Murji'ah

ALIRAN MURJI’AH
(Sejarah, Tokoh-Tokoh dan Pokok-Pokok Ajaran Murji’ah)
oleh: Masluhin
Sejarah Murji’ah
Aliran Murji’ah muncul dipenghujung abad 1H di Damaskus, timbul karena persoalan politik yaitu khilafah yang membawa kepada perpecahan umat Islam terlebih lagi semenjak terbunuhnya Utsman bin Affan.
Pada mulanya golongan Murji’ah merupakan kelompok netral antara Khawarij dan Syi’ah dalam persoalan kafir mengkafirkan orang.
Murji;ah berasal dari kata bahasa Arab yaitu “Arja’a” yang mengandung dua pengertian, yaitu:
Menangguhkan, mengemudiankan, atau mengakhirkan. Dinamakan demikian karena menangguhkan persoalan-persoalan yang diperselisihkan umat Islam yang banyak menumpahkan darah.
Memberi pengharapan. Orang mukmin yang melakukan dosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka. Maksiat tidak mengurangi iman seseorang sebagaimana ketaatan tidak akan berguna bila disertai dengan kekafiran.

Tokoh-Tokoh Aliran Murji’ah
Dalam aliran Murji’ah dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan moderat dan golongan ekstrim. Beberapa tokoh yang termasuk golongan Murji’ah Moderat antara lain: Al Hasan ibn Muhammad ibn ‘Ali ibn Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli hadits. Ibnu Hazim juga memasukkan Al Asy’ari kedalam golongan Murji’ah Moderat. Hal ini karena pendapat Al Asy’ari tentang iman identik dengan pendapat para tokoh golongan Murji’ah Moderat. Al Baghdadi (ahli hadits golongan Asy’ariyah), Al Bazdawi (golongan Maturidiyah), mereka juga sependapat dengan para tokoh Murjiah tentang definisi iman.
Sedangkan para tokoh Murjiah golongan ekstrim antara lain, Jahm ibn Sofwan (Al Jahmiyah), Abu Al Hasan Al Salihi (al Salihiyah), golongan al Yunusiyah, golongan al ‘Ubabaidillah, dan golongan al Khasaniyah.

Pokok-Pokok Ajaran Murji’ah
A. Tentang iman
Orang Murji’ah beranggapan bahwa dengan mengenal Allah dan utusan-Nya, dan barang siapa yang mengaku tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan-Nya, orang tersebut sudah dapat dikatakan sebagai orang yang beriman (mukmin).
Tegasnya iman hanyalah dii’tiqadkan dalam hati tanpa perlu diucapkan dengan lidah, apalagi diikuti degan perbuatan, sekalipun orag tersebut nyata mengatakan kafir dan menyembah berhala kemudian meninggal dalam keadaan seperti itu, ia tetap dikatakan mukmin dan sempurna imannya, kelak akan masuk surga.
Iman tidak memiliki sifat bertambah atau berkurang, oleh sebab itu iman orang Islam sama, tidak ada perbedaan iman oragng yang melakukan dosa besar dengan iman orang yang patuh menjalankan perintah Allah, sebab iman itu cukup dalam hati saja.

B. Tentang Dosa
Orang Murji’ah berpendapat, barang siapa yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia berbuat dosa besar, maka orang itu tetap mukmin. Oleh sebab itu, tidak boleh menghukum orang Islam dengan kafir sekalipun ia melakukan dosa besar.
Sebesar apapun dosa yang dilakukan seseorang tidak akan dapat menghapus imannya. Dengan demikian tidak boleh menumpahkan darah sesama umat Islam, kecuali ada hal-hal yang membolehkan untuk itu.
Persoalan kafir mengkafirkan seseorang ditangguhkan kepada Allah dan Dialah yang memberikan hukumannya nanti di akhirat.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih